Minggu, 29 Juli 2012

Sidak Makanan, Penjaja Takjil Pasar Benhil Sempat Bingung


- Kedatangan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) DKI Jakarta ke Pasar Bendungan Hilir ternyata sempat membuat para pedagang sedikit panik.
Namun beberapa mengaku tidak terkejut dengan inspeksi yang dilakukan oleh Balai Besar POM DKI Jakarta.
"Biasa emang kalau bulan puasa gini. Sering ada sidak kayak tadi," kata salah satu penjaja takjil, Yuli (34), saat dijumpai di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta, Kamis (26/7/2012).
Ia mengaku beberapa kali sidak memang ada saja penjaja yang dagangannya menggunakan bahan berbahaya.
Namun hampir sebagian besar sudah paham untuk tidak memakai bahan yang tidak dianjurkan oleh BPOM. "Sudah diberitahu mana yang boleh mana yang nggak. Kami coba ikut aturan aja," ujar Yuli.
Ia mengungkapkan bahwa makanan yang dijajakannya diambil dari pemasok di Pasar Senen. Sementara untuk minuman dan kolak, ia membuat sendiri baru kemudian dijajakan di Pasar Bendungan Hilir.
"Ini saya beli di Senen dan memang sudah lama saya langganan. Kalau kolak dan minuman saya buat sendiri," tandasnya.

Ramadhan Khas Timur Tengah

FITRI PRAWITASARI
Bulan Ramadhan telah berjalan beberapa hari. Sebagai masyarakat Muslim Indonesia, banyak tradisi khas Ramadhan yang telah menjadi rutinitas selama beberapa hari belakangan. Misalnya saja berkumpul dengan sanak saudara dan sahabat pada saat berbuka puasa atau sahur.
Ramadhan tidak hanya dijalankan oleh masyarakat Muslim di Indonesia, tetapi juga masyarakat Muslim dunia, termasuk Timur Tengah. Bagaimana tradisi Ramadhan bagi sebagian masyarakat Timur Tengah?
Dalam acara Ambassador Iftar Dinner yang diselenggarakan oleh Hotel Century Park, Kamis (26/7/2012), dihadirkan perwakilan duta besar dari negara-negara Timur Tengah. Acara ini menjadi suatu ajang berbagi pengalaman tentang kehidupan Ramadhan di negara-negara tersebut.
Menurut penuturan Bilal Chamsine, General Manager Hotel Century Park, yang berkewarganegaraan Lebanon, Ramadhan baginya ialah kebersamaan. "Ramadhan adalah saat semua orang berkumpul dan bercengkerama, terutama pada saat berbuka puasa," katanya.
Tradisi berbuka puasa atau yang juga disebut iftar, di sebagian negara Timur Tengah, termasuk Lebanon, sama halnya seperti di Indonesia. Berbuka dimulai dengan menyantap hidangan manis dan kue-kue ringan.
Di Lebanon, terdapat kue khas yang bisa menjadi sajian saat berbuka puasa, yaitu baklava. Baklava terbuat dari kacang pistachio, filopastri, campuran gula dan sedikit tambahan air mawar. Rasa baklava manis, dengan paduan kacang dan campuran gula yang lembut, serta rasa renyah yang berasal dari filopastri.
Setelah menyantap aneka kue, berbuka puasa dilanjutkan dengan menyantap makanan berat. Biasanya hidangan terdiri dari salad, sup, serta olahan daging, baik kambing maupun sapi.
Saat sahur, tradisi membangunkan sahur tidak berbeda dengan yang ada di Indonesia. Menurut Bilal, membangunkan sahur menggunakan small drum atau drum kecil yang dipukul oleh anak-anak kecil.
"Membangunkan sahur menggunakan drum kecil mengingatkan saya pada saat kecil ketika sering melakukannya," katanya.
Setelah berpuasa satu bulan penuh, hari kemenangan atau Lebaran akan dirayakan. Di Lebanon, pada saat Lebaran, semua serba putih sebagai lambang kesucian, termasuk pada makanan khas, yaitu white yogurt. White yogurt terbuat dari susu olahan tanpa ditambahkan pewarna apa pun sehingga menghasilkan yogurt putih dengan rasanya yang manis dan sedikit asam.

Bulan Puasa, Kok Banyak Godaan Penyulut Emosi?


SHUTTERSTOCK
  Mungkin Anda sering berpikir, kok hal-hal yang menyulut emosi lebih gencar datang di bulan puasa, sih? Padahal Anda ingin menjaga ibadah puasa agar tetap khusyuk.

Memang tak dapat dipungkiri, hal terberat dari puasa bukan saja menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan emosi. Hal ini tak kalah penting sekaligus pelik mengingat godaan penyulut emosi di bulan suci tampak tak kunjung habis.

“Memang ketika puasa kita berada dalam keadaan tidak terlalu nyaman karena lapar dan haus. Otomatis, ketidaknyamanan ini membuat emosi mudah terpicu,” tukas Widiawati Bayu, psikolog dari PT Kasandra Persona Prawacana. Oleh karena itu, Widiawati menyarankan setiap pasangan mengontrol diri agar sikap, hawa nafsu, juga emosi, senantiasa terkendali supaya puasa lebih banyak diisi dengan hal positif.

Faktor pemicu
“Suami dan istri itu ibaratnya satu jiwa. Namun, banyak hal yang bisa membuat keduanya bersinggungan,” kata Widiawati. Pasalnya, meski hidup dalam satu atap dan menghabiskan banyak waktu bersama, praktiknya tidak selalu berjalan mulus.

Sebut saja jika si dia malas membantu Anda menyiapkan sahur atau memutuskan lokasi salat Idul Fitri secara sepihak. Hal-hal kecil yang demikian, justru dapat memercik perselisihan yang akan berbuntut panjang jika tidak segera diselesaikan.

“Dalam lingkup keluarga, masalah pun tidak hanya menyangkut suami dan istri. Faktor anak, pengasuh, teman, atau rekan kerja juga bisa menjadi pemicu perselisihan dengan suami atau istri Anda,” paparnya. Misalnya jika pasangan terlalu sering menghadiri undangan buka puasa tanpa mengajak Anda. Saat cara yang ditempuh salah, misalnya lupa meminta izin dahulu, tanpa diduga konflik pun meletup.

Tunda amarah
Kunci dari perselisihan memang komunikasi. Akan tetapi, komunikasi yang seperti apa? Menurut Widiawati, komunikasi terbuka dan tulus dengan niat baik untuk menyelesaikan masalah adalah yang harus ditempuh. Artinya, jangan langsung terpicu jika pasangan memancing emosi negatif Anda.

“Duduk berdua, bicarakan apa yang tidak disukai. Lakukan komunikasi terbuka tanpa amarah. Karena sebenarnya semua orang tahu masalah yang dihadapi dengan amarah justru hanya akan mengendap, bukannya tuntas,” tegasnya.

Lagi pula, rasanya sayang jika niat ibadah justru tertoreh hal yang kurang baik, kan? “Bayangkan jika tiga puluh hari Anda memendam amarah, kekesalan menumpuk, lalu di Hari Lebaran Anda bermaaf-maafan namun sebenarnya ada yang masih mengganjal. Maknanya tidak diraih dan akan disesalkan di kemudian hari,” ujar Widiawati.

Kenali duduk perkara

Lalu bagaimana meredakan emosi yang sempat terpancing? Pertama, coba tenangkan diri lalu cari inti permasalahan. Apa sebenarnya yang Anda rasakan? Apakah Anda kecewa karena pasangan tidak bisa ikut menemani berbelanja kebutuhan buka puasa? Kesal karena masakan selalu bersisa di piring si kecil? Atau, luapan amarah justru berasal dari luar rumah dan si dia tak dapat menenangkan hati Anda? Jika pangkalnya telah ditemui, amarah akan lebih mudah diatasi.

Selanjutnya, pikirkan cara apa yang akan diambil untuk dibicarakan pada suami. Apakah akan langsung dibahas atau menanti waktu usai buka puasa?

“Untuk hal ini, kenali dulu karakter dan kondisi pasangan. Jika emosinya cenderung naik-turun saat puasa atau ia kelelahan setelah aktivitas kantor, sebaiknya membahas permasalahan di malam hari saja,” kata Widiawati. Biasanya setelah selesai makan, minum, dan beribadah, perasaan pun akan kembali nyaman dan kondusif.

Sementara ketika eksekusi, pengendalian emosi pun menentukan apakah masalah akan tuntas atau justru berlarut-larut. “Jadi jaga nada bicara agar tetap rendah dan ekspresi muka tidak ditekuk. Bayangkan jika Anda tiba-tiba disapa dengan nada bicara tinggi, tentu tidak enak, kan? Pasangan justru akan bingung. Nah, yang paling penting adalah utamakan kejujuran tentang yang Anda rasakan,” tambahnya. Percayalah, tidak memendam amarah akan membuat suasana hati Anda dan si dia lebih stabil.

Jangan ragu minta maaf
Selain melatih pengendalian diri, bulan puasa juga momen yang pas untuk lebih tahu apa yang si dia suka dan apa yang tidak, lalu hindari hal yang tidak disukainya.

“Hal kecil seperti membahas topik yang tidak ia suka, mengungkit kesalahannya, sampai bagaimana Anda menyediakan menu buka puasa, bisa menjadi penyebab juga, lho. Ingat, di meja makan juga Anda harus ‘mengolah’ kebahagiaan dengan menyediakan menu yang disukai anggota keluarga,” urai Widiawati.

Tetapi, wajar saja jika sesekali emosi Anda meluap bak air bah. “Namun setelah Anda menyadari melakukan kesalahan, segeralah minta maaf, karena itu bagian dari ibadah pula,” tambahnya.

Yoghurt, Solusi untuk Napas Tak Sedap


Shutter Stock

KOMPAS.com - Banyak sumber yang menyatakan berbagai penyebab bau napas tak sedap. Dua sebab yang paling umum adalah faktor kesehatan mulut dan perut. Nah, tahukah Anda jika yoghurt bisa mereduksi bau napas tidak sedap tersebut?
Yoghurt pada lazimnya mengandung probiotik. Ia diyakini dapat menetralkan bau napas tidak sedap. Menurut Robert Meltzer, MD, dokter spesialis pencernaan yang berbasis di Lenox Hill Hospital, New York City, "Yoghurt memang tidak berefek apa pun pada bakteri di lidah. Tapi, yoghurt ternyata memiliki efek menetralkan asam yang ada di antara mulut dan perut, termasuk di tenggorokan belakang dan kerongkongan."
Sementara, menurut dokter gigi asal Ohio, Matthew Messina, DDS, "Yoghurt memang mampu menghilangkan bau mulut yang dihasilkan dari kondisi gastrologi, seperti asam refluks. Tapi, yoghurt tidak akan berefek nyata pada napas tidak sedap yang disebabkan oleh kerusakan hati atau penyakit paru-paru."
Meski demikian, tidak ada salahnya mulai sekarang, mencoba mengonsumsi yoghurt secara berkala. Tubuh bisa jadi lebih sehat, dan napas juga lebih segar. 

Hidangan Sahur Praktis


TABLOID NAKITA/FERDIANSYAH
Biasanya kalau sahur, mereka yang mempunyai waktu sempit harus berpikir untuk mencari masakan yang praktis dan cepat dibuat, yang penting seimbang gizinya.
Mengingat selama puasa kita tetap harus bekerja seperti biasa, jadi harus berpikir untuk mengatur makanan untuk kesehatan, yaitu dengan banyak makan sayuran dan buah dengan mengurangi makanan gorengan karena makanan gorengan akan membuat kita haus pada siang harinya. Banyaklah minum air putih dan makan yang tidak berlebihan.

Ceri Impor untuk Ramadhan dari The Food Hall

SHUTTERSTOCK
Indonesia kaya akan buah-buahannya, baik yang dikenal sebagai buah lokal maupun internasional. Anehnya, tak banyak masyarakat kita yang memanfaatkan kekayaan akan buah ini. Terbukti, konsumsi buah masyarakat Indonesia saat ini masih di bawah 40 kg per kapita. Padahal, FAO menetapkan standar minimal konsumsi buah sebesar 75 kg per kapita.
"Jangan lupakan buah dalam makanan yang dikonsumsi, karena sampai saat ini tingkat konsumsi buah masyarakat Indonesia masih rendah," ujar konsultan bisnis Kafi Kurnia, saat talkshow "Northwest Cherry The Super Fruit" di Lamoda Cafe, Plaza Indonesia, Jumat (14/7/2012) lalu.

Untuk memperkenalkan warga Jakarta dan sekitarnya tentang variasi buah-buahan, Badan Promosi Pertanian (WSDA) negara bagian Washington di Amerika bekerjasama dengan Northwest Cherry, dan Washington Apple Commision, menghadirkan buah ceri dan apel dari Amerika di The Food Hall Indonesia. Ceri memiliki tekstur buah lembut dan berukuran agak besar. Ceri merah memiliki rasa yang manis dengan sedikit semburat rasa asam, sedangkan ceri kuning memiliki rasa yang benar-benar manis.

"Kondisi wilayah Washington ini dikelilingi pegunungan es. Dan es ini akan meleleh saat musim panas, menciptakan danau-danau kecil yang mengaliri lahan. Hal ini menjadikan negara bagian Washington sebagai salah satu sentra produksi buah berkualitas, termasuk ceri dan apel," jelas Kafi, yang juga Ketua Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia (ASEIBSSINDO).

Ceri merah dan kuning yang didatangkan dari Amerika ini diakui Kafi memiliki rasa yang menyegarkan, sehingga cocok disantap sebagai makanan berbuka puasa pada bulan Ramadhan yang tiba minggu depan. Untuk memudahkan pengunjung mendapatkan buah-buahan ini, The Food Hall telah menghadirkan ceri kuning dan ceri merah ini sejak 23 Juni hingga 29 Juli 2012 mendatang. Selain ceri, The Food Hall juga menghadirkan beragam buah-buahan segar lain, seperti apel dan kurma.

Olahan buah kreatif
Dalam acara promosi buah impor ini The Food Hall juga mengadakan demo masak dari Chef Vindex Tengker dengan tema olahan buah sebagai menu utama. "Buah memang sebaiknya disantap segar. Namun agar tak bosan, buah juga bisa dimasak," ungkap Vindex.

Dalam demo memasak ini, ia memberikan tiga resep olahan buah yang unik, seperti cinnamon washington apple and northwest cherry tart, grilled sesame crusted tuna skewers with northwest cherry salsa, dan pan fried five spice duck breast with gingered northwest cherry compote.  Menurut Vindex, buah impor seperti ceri dan apel tidak hanya bisa diolah sebagai makanan penutup tetapi juga sebagai hidangan utama.