SHUTTERSTOCK
Mungkin Anda sering berpikir,
kok hal-hal yang menyulut emosi lebih gencar datang di bulan puasa, sih?
Padahal Anda ingin menjaga ibadah puasa agar tetap khusyuk.
Memang
tak dapat dipungkiri, hal terberat dari puasa bukan saja menahan lapar
dan dahaga, melainkan menahan emosi. Hal ini tak kalah penting sekaligus
pelik mengingat godaan penyulut emosi di bulan suci tampak tak kunjung
habis.
“Memang ketika puasa kita berada dalam keadaan tidak
terlalu nyaman karena lapar dan haus. Otomatis, ketidaknyamanan ini
membuat emosi mudah terpicu,” tukas Widiawati Bayu, psikolog dari PT
Kasandra Persona Prawacana. Oleh karena itu, Widiawati menyarankan
setiap pasangan mengontrol diri agar sikap, hawa nafsu, juga emosi,
senantiasa terkendali supaya puasa lebih banyak diisi dengan hal
positif.
Faktor pemicu“Suami dan istri itu
ibaratnya satu jiwa. Namun, banyak hal yang bisa membuat keduanya
bersinggungan,” kata Widiawati. Pasalnya, meski hidup dalam satu atap
dan menghabiskan banyak waktu bersama, praktiknya tidak selalu berjalan
mulus.
Sebut saja jika si dia malas membantu Anda menyiapkan
sahur atau memutuskan lokasi salat Idul Fitri secara sepihak. Hal-hal
kecil yang demikian, justru dapat memercik perselisihan yang akan
berbuntut panjang jika tidak segera diselesaikan.
“Dalam lingkup
keluarga, masalah pun tidak hanya menyangkut suami dan istri. Faktor
anak, pengasuh, teman, atau rekan kerja juga bisa menjadi pemicu
perselisihan dengan suami atau istri Anda,” paparnya. Misalnya jika
pasangan terlalu sering menghadiri undangan buka puasa tanpa mengajak
Anda. Saat cara yang ditempuh salah, misalnya lupa meminta izin dahulu,
tanpa diduga konflik pun meletup.
Tunda amarahKunci
dari perselisihan memang komunikasi. Akan tetapi, komunikasi yang
seperti apa? Menurut Widiawati, komunikasi terbuka dan tulus dengan niat
baik untuk menyelesaikan masalah adalah yang harus ditempuh. Artinya,
jangan langsung terpicu jika pasangan memancing emosi negatif Anda.
“Duduk
berdua, bicarakan apa yang tidak disukai. Lakukan komunikasi terbuka
tanpa amarah. Karena sebenarnya semua orang tahu masalah yang dihadapi
dengan amarah justru hanya akan mengendap, bukannya tuntas,” tegasnya.
Lagi
pula, rasanya sayang jika niat ibadah justru tertoreh hal yang kurang
baik, kan? “Bayangkan jika tiga puluh hari Anda memendam amarah,
kekesalan menumpuk, lalu di Hari Lebaran Anda bermaaf-maafan namun
sebenarnya ada yang masih mengganjal. Maknanya tidak diraih dan akan
disesalkan di kemudian hari,” ujar Widiawati.
Kenali duduk perkara Lalu
bagaimana meredakan emosi yang sempat terpancing? Pertama, coba
tenangkan diri lalu cari inti permasalahan. Apa sebenarnya yang Anda
rasakan? Apakah Anda kecewa karena pasangan tidak bisa ikut menemani
berbelanja kebutuhan buka puasa? Kesal karena masakan selalu bersisa di
piring si kecil? Atau, luapan amarah justru berasal dari luar rumah dan
si dia tak dapat menenangkan hati Anda? Jika pangkalnya telah ditemui,
amarah akan lebih mudah diatasi.
Selanjutnya, pikirkan cara apa
yang akan diambil untuk dibicarakan pada suami. Apakah akan langsung
dibahas atau menanti waktu usai buka puasa?
“Untuk hal ini,
kenali dulu karakter dan kondisi pasangan. Jika emosinya cenderung
naik-turun saat puasa atau ia kelelahan setelah aktivitas kantor,
sebaiknya membahas permasalahan di malam hari saja,” kata Widiawati.
Biasanya setelah selesai makan, minum, dan beribadah, perasaan pun akan
kembali nyaman dan kondusif.
Sementara ketika eksekusi,
pengendalian emosi pun menentukan apakah masalah akan tuntas atau justru
berlarut-larut. “Jadi jaga nada bicara agar tetap rendah dan ekspresi
muka tidak ditekuk. Bayangkan jika Anda tiba-tiba disapa dengan nada
bicara tinggi, tentu tidak enak, kan? Pasangan justru akan bingung. Nah,
yang paling penting adalah utamakan kejujuran tentang yang Anda
rasakan,” tambahnya. Percayalah, tidak memendam amarah akan membuat
suasana hati Anda dan si dia lebih stabil.
Jangan ragu minta maafSelain
melatih pengendalian diri, bulan puasa juga momen yang pas untuk lebih
tahu apa yang si dia suka dan apa yang tidak, lalu hindari hal yang
tidak disukainya.
“Hal kecil seperti membahas topik yang tidak ia
suka, mengungkit kesalahannya, sampai bagaimana Anda menyediakan menu
buka puasa, bisa menjadi penyebab juga, lho. Ingat, di meja makan juga
Anda harus ‘mengolah’ kebahagiaan dengan menyediakan menu yang disukai
anggota keluarga,” urai Widiawati.
Tetapi, wajar saja jika
sesekali emosi Anda meluap bak air bah. “Namun setelah Anda menyadari
melakukan kesalahan, segeralah minta maaf, karena itu bagian dari ibadah
pula,” tambahnya.