Senin, 19 Maret 2012

Musisi Austria Pelestari Lagu Batak

 
Musisi Austria Pelestari Lagu Batak
Lagu Butet telah lama dikenal sebagai salah satu lagu tradisional Batak. Lagu yang berlatar belakang perjuangan bangsa melawan penjajahan Belanda ini begitu berkesan bagi seorang Hermann Delago. Lagu pertama yang didengarnya saat berlibur di Bali pada 1995 silam yang saat itu dinyanyikan oleh seorang turis. "Saya dengar orang bule nyanyi lagu Indonesia, saya mau belajar. Saya cari teman di Bali, dia ajari lagu Butet," kata Hermann, kepada Liputan 6 SCTV, baru-baru ini.

Melodi lagu Batak menurut musisi kenamaan Austria ini sangat indah dan mirip musik barat, bahkan lebih berkarakter. Saat kembali ke Austria, Hermann kerap membawakan lagu-lagu Batak dalam konser di sejumlah negara Eropa. Dengan fasih ia membawakan sendiri lagu-lagu Batak. "Sering nyanyi di kedai tuak. Dengar dari anak Batak, dari situ saya belajar," ucap Hermann.

Selain menyukai melodi lagu Batak, Hermann mengaku terpesona dengan kemolekan Danau Toba dan Pulau Samosir. Bahkan, ia juga terpikat dan menyunting gadis berdarah Batak sehingga ia ditabalkan bermarga Manik. Sebagai orang yang sudah bermarga Batak, Hermann merasa terpanggil untuk melestarikan lagu-lagu Batak.

Secara tidak sengaja, Hermann bertemu dengan musisi muda Viky Sianipar di sebuah warung kopi di Tuktuk, Pulau Samosir. Menyelaraskan musik tradisional dengan musik modern yang dikenal dengan world music, membuat Hermann dan Viky berkolaborasi mengaransemen lagu Batak agar lebih populer. Wujudnya adalah album lagu bertajuk Tobatak yang direkam dan dipasarkan oleh label BSC Music Jerman.

Tanggapan positif diberikan banyak tokoh Batak yang hadir dalam peluncuran album Tobatak yang akan dipasarkan secara internasional dalam bentuk cakram padat atau CD, digital itunes, dan amazone yang akan diikuti dengan konser beberapa negara Eropa. "Tidak jauh dari penyanyi orang-orang Batak, persis syairnya juga sama, malah lebih hidup," ujar Monaky Manalu, pencipta lagu Batak.

Sebagai musisi, Viky Sianipar merasa bangga sekaligus merupakan tamparan untuk generasi muda yang kadang melupakan musik tradisinya.

Atas perhatian yang besar terhadap pelestarian musik tradisional, para tokoh Batak pun memberikan penghargaan pada Hermann Delago. Walau tidak berdarah Indonesia, Hermann Delago telah membuktikan kecintaannya pada musik tradisi Indonesia. Hal yang harus ditiru dan diikuti generasi muda di Indonesia agar semua musik tradisional terus terpelihara dan menjadi milik bangsa.(BOG)

Sejarah Kelam Kekalahan Indonesia


VIVAbola - Tim Nasional Indonesia baru saja menelan kekalahan terburuk di pentas sepakbola internasional usai dilumat Bahrain 0-10, Rabu 29 Februari 2012. Berikut ini adalah sejumlah sejarah kelam kekalahan Indonesia di ajang internasional.

Membuka catatan sejarah masa silam, sejak masih di bawah penjajahan Belanda, Indonesia yang kali itu masih bernama Hindia Belanda pernah menelan kekalahan telak 2-9 saat melawan Belanda di Amsterdam pada 26 Juni 1938. Setelah hampir tiga puluh tahun berselang, tepatnya 8 Agustus 1960, Indonesia harus mengakui keunggulan sang tetangga, Singapura, dengan skor 3-8. Kekalahan itu  terjadi di ajang Turnamen Merdeka Grup B.

Pada 3 September 1974, Indonesia yang berkunjung ke Copenhagen, menelan kekalahan 0-9 saat berjumpa timnas Denmark. Dua tahun kemudian, konfrontasi Indonesia dan Malaysia berlanjut di kancah turnamen Merdeka. Indonesia bertekuk lutut 1-7, pada Agustus 1976. Empat tahun kemudian, Malaysia menjadi momok bagi Indonesia. Di pentas kualifikasi Olimpiade 1980 putaran II, Indonesia kembali menyerah 1-6 dari tangan Malaysia.

Di pengujung abad ke-20, Indonesia kembali menderita kekalahan telak saat menjamu Mesir. Tim Garuda kebobolan enam gol di pentas Piala Presiden pada 11 Juni 1991. 16 tahun setelahnya, Indonesia kembali menelan besar saat jumpa Suriah. Merah Putih kalah 0-7 di Damascus saat menghadapi dari Timur tengah tersebut pada 18 November 2007.

Kekalahan 1-7 juga didapat Indonesia saat menjamu Timnas Uruguay dalam pertandingan persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 8 Oktober 2010 lalu.

Rekor kekalahan Indonesia yang bertahan 38 tahun saat ditumbangkan Denmark 0-9, pecah pada Rabu 29 Februari 2012. Bertandang ke Bahrain untuk melakoni pertandingan terakhir Grup E zona Asia Pra Piala Dunia 2014, Indonesia harus menderita kekalahan sepanjang sejarah. Berkekuatan mayoritas Timnas U-23, Indonesia dibantai 0-10 di National Manama Stadium.

Sejarah, Bekal Meraih Masa Depan

BANDUNG, (TubasMedia.Com) – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan, dalam mengisi kemerdekaan tidak boleh mencela sejarah. Pembangunan hendaknya dilaksanakan dengan semangat persatuan dan kesatuan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan modal itu maka cita-cita mewujudkan kesejahteraan bangsa dapat segera dilaksanakan.
“Tidak boleh mencela masa*lalu. Sejarah yang lalu hendaknya digunakan sebagai bahan evaluasi. Hal-hal yang buruk di masa lalu menjadi pelajaran agar tidak terulang kembali. Sementara hal-hal yang baik dapat menjadi panutan untuk mengejar keberhasilan di masa depan. Intinya banyak yang dapat kita petik dalam sejarah masa lalu.
Ada hal yang terkait dengan keburukan juga ada hal yang menjadi tinta emas keberhasilan sebuah bangsa,” tegas Heryawan pada pembukaan Musda IV Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotongroyong (Kosgoro) Jawa Barat, di Bandung, baru-baru ini. Hadir dalam acara Musda tersebut, Ketua Majelis Pertimbangan Kosgoro Hayono Isman yang juga anggota DPR dari Partai Demokrat.
Sebagai bahan evaluasi sebuah bangsa, tambah Heryawan mencontohkan dua negara yakni Indonesia dan Korea Selatan. Hari Kemerdekaan kedua negara hanya terpaut dua hari. Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 sedangkan Korea Selatan (Korsel) tanggal 15 Agustus tahun yang sama.
Namun mengapa kemajuan kedua negara tersebut terpaut cukup jauh. Sejarah kemajuan bangsa Korsel hendaknya menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia untuk meraih masa depan yang lebih baik. “Ternyata masalah kultur dan ragam suku bangsa menjadi fokus perhatian. Indonesia dengan ragam budaya dan suku bangsa hendaknya lebih maju dibanding Korsel,” harpanya.
Menurut Heryawan, hal yang paling utama dalam mempersatukan bangsa Indonesia terletak pada komitmen untuk ikhlas dipersatukan dalam kerangka NKRI, dengan pondasi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945. Keberadaan NKRI adalah harga mati dan tak perlu lagi diperdebatkan. Sehingga ke depan yang harus dilakukan bagaimana mengoptimalkan sumberdaya yang ada untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa. Hendaknya pilar-pilar tersebut dapat mewarnai program pembangunan, termasuk sebagai bahan kerangka kebijakan organisasi Kosgoro.
Hayono Isman yang menjelaskan Kosgoro merupakan organisasi yang mengedepankan persatuan dan kesatuan untuk pembangunan bangsa. Kosgoro merupakan organisasi non Parpol yang bekerja demi kepentingan masyarakat luas. Meski jika menilik sejarah, embrio Kosgoro berasal dari Partai Golkar.
Hayono menegaskan Kosgoro merupakan Ormas independen yang siap menerima anggota tanpa membedakan ras, agama, dan suku bangsa demi tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa. (damanik)